Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia
Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia adalah gerakan Dakwah, organisasi kader dan wahana komunikasi organisasi Pemuda Remaja Masjid seluruh Indonesia.
Sejarah
Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI) berdiri pada tanggal 3 September 1977 19 Ramadhan 1397 Hijriyah di Masjid Istiqamah Bandung, Jawa Barat. Dengan terbentuknya kepengurusan periode 1977 - 1980 hasil Musyawarh Kerja Nasional dan dilantik oleh KH. EZ Muttaqien mewakili Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat. Lahirnya BKPMI ini adalah pada forum Musyawarah Kerja Nasional I yang kemudian disepakati sebagai Musyawarah Nasional I yang dihadiri oleh BKPM wilayah dengan kepemimpinan model Presidium dan terpilih sebagai ketua umum Rakanda Toto Tasmara dengan Sekertaris Umum Rakanda Bambang Pranggono. Tercatat sebagai pendiri adalah : Rakanda Toto Tasmara, Rakanda Ahmad Mansur Suryanegara, Rakanda Syamsuddin Manaf, Rakanda Bambang Pranggono, masing-masing dari Jawa Barat, Rakanda Mustafid Amna, Rakanda Syaifuddin Donondjoyo, Rakanda Muhammad Anwar Ratnapa Syaifuddin Donondjoyo, Rakanda Muhammad Anwar Ratnaprawira, Rakanda Muchlis Ma'ruf masing-masing dari DKI Jakarta, Rakanda Nasir Budiman, Nurcholis Turmudzi masing-masing dari Jawa Tengah, Rakanda Mubayin dari Jawa Timur.
Pembentukannya dilatar belakangi sebagai berikut :
Sebagai reaksi terhadap gejala sosial yang berkembang di tanah air seperti konsep pembangunan nasional yang dinilai cenderung berorientasi pada pembentukan masyarakat sekuler, depolitisasi organisasi kepemudaan melalui konsep NKK dan BKK, isu kristenisasi dan pemahaman keagamaan berlangsung secara dinamis yang menimbulkan polemik antara paham tradisional dan paham modernis.
Isu kebangkitan Islam Abad XV Hijriyah yang ditandai dengan kesemarakan kegiatan keagamaan, pencerahan pemahaman keagamaan melalui kajian-kajian dalam berbagai bentuknya, kuatnya dorongan untuk membangun Ukhuwah Islamiyah dan negara
Tumbuhnya kesadaran beragama di kalangan muda Islam telah mendorong untuk mempelajari sekaligus untuk memperjuangkan Islam sebagai sebuah kebenaran mutlak.
Tumbuh kembangnya kajian-kajian Islam]] di berbagai belahan dunia di satu sisi dan di sisi lain semakin kuatnya semangat Generasi Muda Islam Indonesia untuk memantapkan posisi dan citra Indonesia tidak hanya sebagai pemeluk Islam terbesar di dunia, tetapi luk Islam terbesar di dunia, tetapi juga sebagai pusat syiar dan peradaban Islam
Munculnya gerakan ummat Islam di seluruh dunia untuk kembali ke Masjid sebagai basis perjuangannya, dimana Masjid sebagai Lembaga dan Pranata, Masjid sebagai Baitullah dan Masjid sebagai milik Ummat, memberikan nuansa dan marwah BKPRMI sebagai alat perekat/katalisator Pemuda Remaja Islam, Ideologi dan emosi keagamaan sebagai motivasi instrinsik dalam memacu semangat juang "Tahan Banting". independen dan sebagai Kader Ummat dan sekaligus sebagai Kader Bangsa.
Rapat pembentukan dan pelantikan pengurus BKPMI periode I itu di lakukan di Masjid Istiqomah Bandung. Pada saat pelantikan pengurus tersebut, hadir beberapa tokoh pemuda Masjid dari Jakarta, Yogyakarta, dan Semarang.
Mengingat Pengurus Periode I ini berkedudukan di Bandung, maka Sekretariat BKPMI pertama kali terletak di Bandung, yakni di Gedung Sekretariat Majelis Ulama Indonesia, Jawa Barat. Kemudian berpindah mengikuti sekretariat MUI Pusat. Tahun 1986 di Masjid AL-Azhar, Jakarta , dan mulai tahun 1989 sampai sekarang di Masjid Istiqlal.
Prestasi
Salah satu prestasi BKPMI adalah di canangkannya pembentukan Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKA) sebagai program nasional BKPMI dalam Musyawarah Nasional V BKPMI di Masjid Al-Falah Surabaya tahun 1989. Dalam MUNAS V ini, hadir memberi pengarahan beberapa pejabat tinggi negara, seperti Menteri Agama (Prof. DR. H. Munawir Sadzali) dan Menteri Penerangan (H. Harmoko). Program TKA ini kemudian dilanjutkan dengan pembentukan Lembaga Pembinaan dan pengembangan TKA (LPPTKA) BKPMI dalam rapat pleno DPP BKPMI di Jakarta.
Dari BKPMI Ke BKPRMI
Perubahan dari Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI) ke Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dilakukan dalam Musyawarah Nasional VI tahun 1993 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, bersamaan dengan bergabungnya Forum Silaturahmi Remaja Masjid (FOSIRAMA) di bawah pimpinan DR. H. Idrus Marham, M.A. (Ketua Umum DPP BKPRMI yang lalu).
Bersamaan dengan perubahan nama organisasi, dalam MUNAS VI ini pula di sepakati, bahwa BKPRMI merupakan lembaga otonom dari organisasi Dewan Mesjid Indonesia (DMI). Selain itu, di bawah pengurus BKPRMI terbentuk beberapa Lembaga Pembinaan dan Pengembangan, seperti Da’wah dan Pengkajian Islam (LPP-DPI), Sumber Daya Manusia (LPP-SDM), Ekonomi Koperasi (LPP-EKOP), Dan Keluarga Sejahtera (LPP-KS). Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Ketahanan Santri (LKS), terbentuk dalam suatu rapat pleno DPP pasca MUNAS VI.
Semoga bermanfaat copas dari wikipedia.com
Minggu, 07 Februari 2016
Kata Kata Indah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk
“Walaupun kamu pergi, jiwamu akan selalu dekat dengan jiwaku.”
“Jangan pernah bersedih. Jangan putus asa. Cinta itu bukan memakan hati, bukan membawa tangis, bukan membuat putus asa. Tetapi cinta itu menguatkan hati, menghidupkan pengharapan.”
“Kau yang sanggup menjadikan saya seseorang yang gagah berani. Kau pula yang sanggup menjadikan saya sengsara selamanya. Kau boleh memutuskan pengharapanku. Kau pun sanggup membunuhku.”
“Hati saya dipenuhi cinta kepada kau. Dan biar Tuhan mendengarkan bahwa engkaulah Zainudin yang akan menjadi suamiku kelak, bila tidak di dunia, kau lah suamiku di akhirat.”
“Carilah kebahagiaan kita. Kemana pun engkau pergi, saya tetap untukmu. Jika kita bertemu kelak, saya akan tetap bersih dan suci untukmu, kekasihku.”
“Dengan surat kita lebih bebas menerangkan perasaan.”
“Tanganmu akan ku gandeng, dari hayatku, sampai matiku.”
“Semuda ini usiaku, sudah begitu berat duka yang harus ku tanggung.”
“Cinta bukan mengajarkan kita untuk menjadi lemah, tapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan melemahkan semangat, tapi membangkitkan semangat.”
“Kalau pikiran tertutup bagaimana mungkin bisa mengarang?”
“Sejauh-jauhnya kita tersesat, pada kebenaran kita akan kembali.”
“Maaf? Kau regas segenap pucuk pengharapanku. Kau patahkan. Kau minta maaf..”
“Sudah hilangkah tentang kita dari hatimu?”
“Janganlah kau jatuhkan hukuman, kasihanilah perempuan yang ditimpa musibah berganti-ganti ini.”
“Demikianlah perempuan, ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walau pun kecil dan ia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya.”
“Bukankah kau yang telah berjanji ketika saya diusir oleh Ninik Mamakmu karena saya asalnya tidak tentu, orang hina, tidak tulen Minangkabau, ketika itu kau antarkan saya di simpang jalan, kau berjanji akan menunggu kedatanganku berapapun lamanya, tapi kemudian kau berpaling ke yang lebih gagah kaya raya, berbangsa, beradat , berlembaga, berketurunan, kau kawin dengan dia. Kau sendiri yang bilang padaku bahwa pernikahan itu bukan terpaksa oleh paksaan orang lain tetapi pilihan hati kau sendiri. Hampir saya mati menanggung cinta Hayati.. 2 bulan lamanya saya tergeletak di tempat tidur, kau jenguk saya dalam sakitku, menunjukkan bahwa tangan kau telah berinang, bahwa kau telah jadi kepunyaan orang lain. Siapakah di antara kita yang kejam Hayati?”
“Kau pilih kehidupan yang lebih senang, mentereng, cukup uang, berenang di dalam emas, bersayap uang kertas. Siapakah di antara kita yang kejam Hayati? Siapa yang telah menghalangi seorang anak muda yang bercita-cita tinggi menambah pengetahuan tetapi akhirnya terbuang jauh ke Tanah Jawa ini, hilang kampung dan halamannya sehingga dia menjadi anak yang tertawa di muka ini tetapi menangis di belakang layar. Tidak Hayati, saya tidak kejam. Saya hanya menuruti katamu. Bukankah kau yang meminta dalam suratmu supaya cinta kita itu dihilangkan dan dilupakan saja, diganti dengan persahabatan yang kekal. Permintaan itulah yang saya pegang teguh sekarang. Kau bukan kecintaanku, bukan tunanganku, bukan istriku. Tetapi janda dari orang lain. Maka itu secara seorang sahabat, bahkan secara seorang saudara saya akan kembali teguh memegang janjiku dalam persahabatan itu sebagaimana teguhku dahulu memegang cintaku. Itulah sebabnya dengan segenap ridho hati ini kau ku bawa tinggal di rumahku untuk menunggu suamimu, tetapi kemudian bukan dirinya yang kembali pulang, tapi surat cerai dan kabar yang mengerikan. Maka itu sebagai seorang sahabat pula kau akan ku lepas pulang ke kampungmu, ke tanah asalmu, tanah Minangkabau yang kaya raya, yang beradat, berlembaga, yang tak lapuk dihujan, tak lekang dipanas. Ongkos pulangmu akan saya beri. Demikian pula uang yang kau perlukan. Dan kalau saya masih hidup, sebelum kau mendapat suami lagi Insya Allah kehidupanmu selama di kampung akan saya bantu.”
“Saya tidak akan pulang. Saya akan tetap di sini bersamamu. Biar saya kau hinakan. Biar saya kau pandang sebagai babu yang hina. Saya tak butuh uang berapa pun banyaknya. Saya butuh dekat dengan kau, Zainuddin. Saya butuh dekat dengan kau..”
“Tidak. Pantang pisah berbuah dua kali. Pantang pemuda makan sisa. Kau mesti pulang kembali ke kampungmu. Biarkan saya dalam keadaan begini. Jangan mau ditumpang hidup saya.”
“Percayalah di dalam jiwaku ada suatu kekayaan besar yang engkau sangat perlu kepadanya.Dan kekayaan itu belum pernah ku berikan kepada orang lain, walaupun kepada Azis. Kekayaan itu ialah kekayaan cinta.”
“Heningkan hatimu kembali. Sama-sama kita habisi kekecewaan yang sudah-sudah. Maafkan saya. Cintai saya kembali.
“Jangan pernah bersedih. Jangan putus asa. Cinta itu bukan memakan hati, bukan membawa tangis, bukan membuat putus asa. Tetapi cinta itu menguatkan hati, menghidupkan pengharapan.”
“Kau yang sanggup menjadikan saya seseorang yang gagah berani. Kau pula yang sanggup menjadikan saya sengsara selamanya. Kau boleh memutuskan pengharapanku. Kau pun sanggup membunuhku.”
“Hati saya dipenuhi cinta kepada kau. Dan biar Tuhan mendengarkan bahwa engkaulah Zainudin yang akan menjadi suamiku kelak, bila tidak di dunia, kau lah suamiku di akhirat.”
“Carilah kebahagiaan kita. Kemana pun engkau pergi, saya tetap untukmu. Jika kita bertemu kelak, saya akan tetap bersih dan suci untukmu, kekasihku.”
“Dengan surat kita lebih bebas menerangkan perasaan.”
“Tanganmu akan ku gandeng, dari hayatku, sampai matiku.”
“Semuda ini usiaku, sudah begitu berat duka yang harus ku tanggung.”
“Cinta bukan mengajarkan kita untuk menjadi lemah, tapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan melemahkan semangat, tapi membangkitkan semangat.”
“Kalau pikiran tertutup bagaimana mungkin bisa mengarang?”
“Sejauh-jauhnya kita tersesat, pada kebenaran kita akan kembali.”
“Maaf? Kau regas segenap pucuk pengharapanku. Kau patahkan. Kau minta maaf..”
“Sudah hilangkah tentang kita dari hatimu?”
“Janganlah kau jatuhkan hukuman, kasihanilah perempuan yang ditimpa musibah berganti-ganti ini.”
“Demikianlah perempuan, ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walau pun kecil dan ia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya.”
“Bukankah kau yang telah berjanji ketika saya diusir oleh Ninik Mamakmu karena saya asalnya tidak tentu, orang hina, tidak tulen Minangkabau, ketika itu kau antarkan saya di simpang jalan, kau berjanji akan menunggu kedatanganku berapapun lamanya, tapi kemudian kau berpaling ke yang lebih gagah kaya raya, berbangsa, beradat , berlembaga, berketurunan, kau kawin dengan dia. Kau sendiri yang bilang padaku bahwa pernikahan itu bukan terpaksa oleh paksaan orang lain tetapi pilihan hati kau sendiri. Hampir saya mati menanggung cinta Hayati.. 2 bulan lamanya saya tergeletak di tempat tidur, kau jenguk saya dalam sakitku, menunjukkan bahwa tangan kau telah berinang, bahwa kau telah jadi kepunyaan orang lain. Siapakah di antara kita yang kejam Hayati?”
“Kau pilih kehidupan yang lebih senang, mentereng, cukup uang, berenang di dalam emas, bersayap uang kertas. Siapakah di antara kita yang kejam Hayati? Siapa yang telah menghalangi seorang anak muda yang bercita-cita tinggi menambah pengetahuan tetapi akhirnya terbuang jauh ke Tanah Jawa ini, hilang kampung dan halamannya sehingga dia menjadi anak yang tertawa di muka ini tetapi menangis di belakang layar. Tidak Hayati, saya tidak kejam. Saya hanya menuruti katamu. Bukankah kau yang meminta dalam suratmu supaya cinta kita itu dihilangkan dan dilupakan saja, diganti dengan persahabatan yang kekal. Permintaan itulah yang saya pegang teguh sekarang. Kau bukan kecintaanku, bukan tunanganku, bukan istriku. Tetapi janda dari orang lain. Maka itu secara seorang sahabat, bahkan secara seorang saudara saya akan kembali teguh memegang janjiku dalam persahabatan itu sebagaimana teguhku dahulu memegang cintaku. Itulah sebabnya dengan segenap ridho hati ini kau ku bawa tinggal di rumahku untuk menunggu suamimu, tetapi kemudian bukan dirinya yang kembali pulang, tapi surat cerai dan kabar yang mengerikan. Maka itu sebagai seorang sahabat pula kau akan ku lepas pulang ke kampungmu, ke tanah asalmu, tanah Minangkabau yang kaya raya, yang beradat, berlembaga, yang tak lapuk dihujan, tak lekang dipanas. Ongkos pulangmu akan saya beri. Demikian pula uang yang kau perlukan. Dan kalau saya masih hidup, sebelum kau mendapat suami lagi Insya Allah kehidupanmu selama di kampung akan saya bantu.”
“Saya tidak akan pulang. Saya akan tetap di sini bersamamu. Biar saya kau hinakan. Biar saya kau pandang sebagai babu yang hina. Saya tak butuh uang berapa pun banyaknya. Saya butuh dekat dengan kau, Zainuddin. Saya butuh dekat dengan kau..”
“Tidak. Pantang pisah berbuah dua kali. Pantang pemuda makan sisa. Kau mesti pulang kembali ke kampungmu. Biarkan saya dalam keadaan begini. Jangan mau ditumpang hidup saya.”
“Percayalah di dalam jiwaku ada suatu kekayaan besar yang engkau sangat perlu kepadanya.Dan kekayaan itu belum pernah ku berikan kepada orang lain, walaupun kepada Azis. Kekayaan itu ialah kekayaan cinta.”
“Heningkan hatimu kembali. Sama-sama kita habisi kekecewaan yang sudah-sudah. Maafkan saya. Cintai saya kembali.
PELOPOR KEMAJUAN STUDI ISLAM
PELOPOR KEMAJUAN STUDI ISLAM
Oleh: MUHAMMAD RIZKI AKBAR SIREGAR
Imam Hanafi menyusun Mazhabnya untuk memudahkan tuntunan ibadah umat karena belum adanya satupun kitab yang menghimpun himpunan ibadah di masanya.
Setelah itu lahir pula Imam Malik yang mengumpulkan hadits-hadits yang ia pelajari dari Tabi'in yang belajar dari sahabat yang melihat langsung kehidupan rasul dalam kitab Al-Muwattho, yang pada masa itu belum ada satupun himpunan kitab hadits.
Setelah itu lahir pula Imam Syafi'i yang mendalami kitab Al-Muwattho' dan mencari lebih banyak hadits mengenai fiqih dan menyusunnya di dalam satu musnad Musnad Asy-Syfi'i dan menyusun suatu mazhab Mazhab Syafi'i.
Setelah itu Lahir pula Imam Ahmad bin Hanbal yang menilai kekuatan Hadits Syafi'i dan Malik, ia pun mempelajari mengenai kekuatan Hadits, dan ia pun menyusun kitab Hadits pertama berdasarkan kekuatan hadits yang berisikan hadits Dhoif dan Shihih di dalam Musnad Ahmad.
Setelah itu lahir pula Imam Bukhori yang mempelajari Kitab Musnad Ahmad yang berisi Hadits hadits Dhoif dan Shohih, Ia pun berusaha mengmpulkan Hadits-hadits Shohih di dalam suatu kitab bernama Shohih Bukhori.
Setelah itu lahir pula Imam muslim yang mempelajari Shohih Bukhori dan meyakini masih banyak Hadits Shohih yang belum ditulis di dalam Shohih Bukhori, al-hasil Muslim menyusun Kitab Shohih Muslim yang lebih tebal dari Shohih Bukhori.
Setelah mereka lahir pulalah Imam-imam Hadits seperti Ibnu Majah, Abu Daud, Tarmizi, Nasa'i yang mengumpulkan Hadits-hadits walaupun di dalamnya sudah terdapat hadits dhoif untuk penambah semangat ibadah dan takut kepada maksiat yang sebelumnya belum pernah di bahas ulama sebelum mereka.
Mereka semua ulama' di atas melakukan pemecahan masalah yang belum di lakukan oleh ulam'a sebelum mereka, tanpa mengurangi agama mereka dan tanpa saling menghujat satu sama lain. Walaupun tak jarang mereka berbeda pendapat dalam suatu hukum.
Berbanding terbalik dengan umat masa kini yang hafalan haditsnya masih bisa di hitung, namun sudah berani menghujat bahkan menyalahkan satu sama lain.
Oleh: MUHAMMAD RIZKI AKBAR SIREGAR
Imam Hanafi menyusun Mazhabnya untuk memudahkan tuntunan ibadah umat karena belum adanya satupun kitab yang menghimpun himpunan ibadah di masanya.
Setelah itu lahir pula Imam Malik yang mengumpulkan hadits-hadits yang ia pelajari dari Tabi'in yang belajar dari sahabat yang melihat langsung kehidupan rasul dalam kitab Al-Muwattho, yang pada masa itu belum ada satupun himpunan kitab hadits.
Setelah itu lahir pula Imam Syafi'i yang mendalami kitab Al-Muwattho' dan mencari lebih banyak hadits mengenai fiqih dan menyusunnya di dalam satu musnad Musnad Asy-Syfi'i dan menyusun suatu mazhab Mazhab Syafi'i.
Setelah itu Lahir pula Imam Ahmad bin Hanbal yang menilai kekuatan Hadits Syafi'i dan Malik, ia pun mempelajari mengenai kekuatan Hadits, dan ia pun menyusun kitab Hadits pertama berdasarkan kekuatan hadits yang berisikan hadits Dhoif dan Shihih di dalam Musnad Ahmad.
Setelah itu lahir pula Imam Bukhori yang mempelajari Kitab Musnad Ahmad yang berisi Hadits hadits Dhoif dan Shohih, Ia pun berusaha mengmpulkan Hadits-hadits Shohih di dalam suatu kitab bernama Shohih Bukhori.
Setelah itu lahir pula Imam muslim yang mempelajari Shohih Bukhori dan meyakini masih banyak Hadits Shohih yang belum ditulis di dalam Shohih Bukhori, al-hasil Muslim menyusun Kitab Shohih Muslim yang lebih tebal dari Shohih Bukhori.
Setelah mereka lahir pulalah Imam-imam Hadits seperti Ibnu Majah, Abu Daud, Tarmizi, Nasa'i yang mengumpulkan Hadits-hadits walaupun di dalamnya sudah terdapat hadits dhoif untuk penambah semangat ibadah dan takut kepada maksiat yang sebelumnya belum pernah di bahas ulama sebelum mereka.
Mereka semua ulama' di atas melakukan pemecahan masalah yang belum di lakukan oleh ulam'a sebelum mereka, tanpa mengurangi agama mereka dan tanpa saling menghujat satu sama lain. Walaupun tak jarang mereka berbeda pendapat dalam suatu hukum.
Berbanding terbalik dengan umat masa kini yang hafalan haditsnya masih bisa di hitung, namun sudah berani menghujat bahkan menyalahkan satu sama lain.
Sabtu, 06 Februari 2016
Untuk siapa laki laki dan wanita yang tidak baik?
Kajian Ilmiah
Oleh: Muhammad Rizki Akbar Siregar
وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
Dan wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik (An-nur: 26)
Permasalahan: Untuk siapa laki laki dan wanita yang tidak baik?
Pembahasan
-Pertama saya akan bahas menurut Studi Ilmu Tafsir:
Ayat Al-Quran itu di bagi menjadi dua:
Pertama ayat Tabsyir (Janji berita gembira bagi orang beriman)
Kedua ayat Tanzdir (Ancaman bagi orang yang tidak beriman)
Suroh An-nur: 26 di atas di golongkan ayat tabsyir sebagai berita gembira bagi orang beriman yakni menjadi wanita dan lelaki akan mendapatkan ganjaran yang baik pula.
Suroh An-nur: 25 dengan jelas menyatakan itu adalah ganjaran di hari akhirat يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ
Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan yang benar.
Kedua saya akan menjelaskan menurut Ilmu Bahasa (Balaghoh)
وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَات
Ditinjau dari potongan ayat ini jelas tidak ada penunjuk sinyal penghusan قصر/
Contoh I: إنما الطيبات للطيبين
Contoh II: وما الطيبين إلا للطيبات
Jika ayatnya seperti ini maka jelas Allah hanya memberi orang baik kepada yang baik dan tidak baik kepada yang tidak baik.
Ketiga saya akan jelaskan secara History
Muhammad SAW teladan sejagat alam memperisterikan isteri yang sholehah.
Abu Lahab ahli neraka yang di sebut Al-quran ini memperisterikan ahli neraka juga.
Asiyah wanita suci mempunyai pendamping hidup seorang Firaun yang mengaku tuhan
Dari ketiga cetita ini jelas bahwa adakalanya pasangan baik dan tidak baik itu di dapat mulai dari dunia sampai akhirat, adakalanya juga hanya di dapat di akhirat
Dari ketiga penjelasan saya ini saya menyimpulkan bahwa
-Laki laki dan perempuan yang baik di ganjar dengan pasangan yang baik (sesuai firman Allah)
-laki laki dan perempuan yang tidak baik di ganjar dengan pasangan yang tidak baik (sesuai firman Allah)
-laki laki dan perempuan yang baik mendapatkan pasangan yang baik tak hanya di dunia bahkan hingga ke ahirat.
Wallahu a'lam
Refrensi
Alquran dan Terjemah
Jawahir al-Balghoh
Oleh: Muhammad Rizki Akbar Siregar
وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
Dan wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik (An-nur: 26)
Permasalahan: Untuk siapa laki laki dan wanita yang tidak baik?
Pembahasan
-Pertama saya akan bahas menurut Studi Ilmu Tafsir:
Ayat Al-Quran itu di bagi menjadi dua:
Pertama ayat Tabsyir (Janji berita gembira bagi orang beriman)
Kedua ayat Tanzdir (Ancaman bagi orang yang tidak beriman)
Suroh An-nur: 26 di atas di golongkan ayat tabsyir sebagai berita gembira bagi orang beriman yakni menjadi wanita dan lelaki akan mendapatkan ganjaran yang baik pula.
Suroh An-nur: 25 dengan jelas menyatakan itu adalah ganjaran di hari akhirat يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ
Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan yang benar.
Kedua saya akan menjelaskan menurut Ilmu Bahasa (Balaghoh)
وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَات
Ditinjau dari potongan ayat ini jelas tidak ada penunjuk sinyal penghusan قصر/
Contoh I: إنما الطيبات للطيبين
Contoh II: وما الطيبين إلا للطيبات
Jika ayatnya seperti ini maka jelas Allah hanya memberi orang baik kepada yang baik dan tidak baik kepada yang tidak baik.
Ketiga saya akan jelaskan secara History
Muhammad SAW teladan sejagat alam memperisterikan isteri yang sholehah.
Abu Lahab ahli neraka yang di sebut Al-quran ini memperisterikan ahli neraka juga.
Asiyah wanita suci mempunyai pendamping hidup seorang Firaun yang mengaku tuhan
Dari ketiga cetita ini jelas bahwa adakalanya pasangan baik dan tidak baik itu di dapat mulai dari dunia sampai akhirat, adakalanya juga hanya di dapat di akhirat
Dari ketiga penjelasan saya ini saya menyimpulkan bahwa
-Laki laki dan perempuan yang baik di ganjar dengan pasangan yang baik (sesuai firman Allah)
-laki laki dan perempuan yang tidak baik di ganjar dengan pasangan yang tidak baik (sesuai firman Allah)
-laki laki dan perempuan yang baik mendapatkan pasangan yang baik tak hanya di dunia bahkan hingga ke ahirat.
Wallahu a'lam
Refrensi
Alquran dan Terjemah
Jawahir al-Balghoh
Kamis, 07 Januari 2016
Dibawah Naungan Tasbih Cinta
Ketika lubuk terkecup asmara
Siapa daya membendung gemuruhnya
Namun luka yang telah menganga
Tak akan sanggup menghalang hakikat cinta
Di ujung utara pulau jawa
Pujangga cinta dan dara jelita
Rela merana demi membuktikan getar getar cinta
Dunia dan kilau permata
Tak akan mampu menghibur sang pujangga
Teras hati gersang kerotan serasa
Hanya seulas senyum sang dara
Mampu membuat bualan mimpinya
Terjaga dibawah Naungan tasbih cinta
*****
Seulas senyum senja, membentang memenuhi hamparan cakrawala, dercak-dercak jingganya menebar merata menghiasi angkasa raya. Salah satu lukisan ilahi yang mempesona. lutfi yang sudah dua tahun nyantri di bumi lantani tersenyum penuh suka cita, hatinya riang gembira, tak henti hentinya iya memandang kota tuban, tanah kelahirannya. ’’sebentar lagi’’ pikirnya ketika bus mutiara yang ditumpanginya singgah di terminal kota Tuban. Tiada yang membuatnya lebih bahagia dari pada liburan dan pulang ke kampung halaman.
Akhirnya Setelah salam salaman sama orang tua, saudara-saudara, semua famili di rumah, dan tak lupa ia juga mampir menyapa tetangga dekatnya, lutfi yang memang bertampang lumayan kece itu melepas penatnya di taman belakang rumah yang penuh dengan tanaman hias.
‘’assalamualaikum’’ sebuah suara menengahi kesendiriannya, suara yang tak asing di telinga lutfi walau ia telah lama meninggalkan kampungnya. Ia menoleh.
‘’Waalaikum salam.. hai farid! Gimana, wah tambah gemuk aja nich....’’ sahutnya seraya memberikan tempat pada teman lamanya itu untuk turut bersantai menikmati tanaman hiasnya. Obrolan ringan karena kerinduan pun mulai mengalir di antara keduanya..
‘’ea lut, entar malem ada pengajian nich, tempatnya di rumah H. Syafi’i, seberang jalan tuh!... "sela farid sembari menunjuk rumah di pinggir jalan raya yang di bentangi dengan pagar besar bak istana kerajaan.
"Ea... insya allah’’ jawab lutfi datar.
‘’pokoknya kamu harus datang, ok! Udah ya, assalamualaikum’’ Farid berpamitan.
‘’Waalaikum salam” jawabnya. Lutfi tersenyum simpul memandang sahabatnya lenggak lenggok berlalu. Biasa “jemblong” tuh!.
*****
Acara tasyakuran di rumah H. syafi’i tampak meriah. Semua tamu yang mayoritas wong kopyahan atau jilbaban tampak bersuka cita, terhanyut oleh lantunan nasyid annabawiyah lantany. Tak ketinggalan Lutfi tampak bersahaja dengan setelan baju takwa putih yang juga berbaur bersama. Bibirnya tiada henti bersholawat seiring lagu, sementara penglihatannya mulai menyapa seluruh isi ruang yang penuh orang. Mereka adalah keluaga islami yang memancarkan cahaya keimanan dan berkah dari setiap sisi dinding rumahnya. Lafadz agung Allah, gambar orang orang yang berjasa di masanya seperti para wali, kyai besar dan juga bapak presiden Abdurrahman Wahid terhias di sepanjang dinding.
Namun diam diam Lutfi menemukan sebentuk bidadari di penghujung tatapannya. Sebelum acara selesai, lutfi sempat berkenalan dengan seorang dara jelita itu, wajahnya yang ayu dibalut jilbab dan sepasang mata bak permata yang tidak pernah di temui oleh penyelam di sepanjang samudra membuatnya tersihir oleh rasa pesona. “Siti Zulaikhah”, begitu iya menyebutkan nama. Lutfi tidak dapat berkata, ia mencoba menahan gemuruh lubuk hati yang kian membahana dan mulai meneruskan perkenalan. “ Lutfi Mabruri”.
Zulaikhah hanya menundukan kepala, cahaya aura lutfi telah memenjarakan hatinya. Tanpa sadar ada getaran yang menyala di sudut hatinya. Walau pada pandangan pertama kedua, detak hati insan ini tak bisa berdusta, bara asmara telah menyala dan berkobar menerangi istana atas nama cinta. Tak ada kata terucap, hanya isyarat kerlingan mata yang syahdu memenuhi waktu mereka, sampai acara selesai.
*****
Waktu tak pernah berhenti menelan ruang kisah manusia. Lutfi dan zulaikhah, walaupun hanya merangkai bayangan syahdu, mereka bahagia dan tidak lelah merajut siang dengan syair-syair indah membingkai malam dengan lagu-lagu rindu. “duhai khusni, bantulah hamba yang lemah ini”
“emang ada apa?” khusni tampak mengerutkan kening, wajah sobatnya pucat. “kamu sakit?” sambungnya lagi.
“karena sakit ini aku menemukan kenikmatan yang tiada tara, suatu kelezatan yang terilham dari syurga.” . mimik muka lutfi serius, khusni hanya melongo heran. “kenapa nih anak,” pikirnya dalam hati. “tolong serahkan surat ini pada zulaikhah” tangan lutfi gemetar menyerahkan surat pada khusni.
“oh,.. ini ta masalahnya, kirain ada apa. Ok deh !”
“sampaikan salamku padanya”, suara lutfi kian serak ada titik linang tertahan di pelupuknya. Setelah khusni berlalu, lutfi tak mampu menahan air mata, ia menangis karena bahagia, sepatah sayapnya telah di bawa oleh khusni tuk di persembahkan pada sang kekasih.
“zul, ini dari lutfi, dia juga nitip salam buat kamu” khusni menyerahkan sepucuk surat pada zulaikhah dan langsung pamit pulang.
Teruntuk adinda siti zulaikhah
Duhai sepasang sayap rinduku.
Ketika siul camar mendenting.
Dawai-dawai asmara.
Seisi alam teriak cemburu.
Saat ku rengkuh lukisan indah senyumu.
Duhai belahan sanubari.
Saat waktu mulai menghapus kisahku.
Kutemukan bias rinduku untukmu.
Hingga tak henti alam mimpiku.
Mengukir percik percik kilau auramu
Duhai separuh nafasku.
Hesrat hati merangkai kisah mempesona.
Bersama sang adinda, menelusuri indahnya taman nirwana.
Harap hati bingkai asa ini tak terlalu maya tuk jadi nyata
Maukah dinda merajut serat-serat rindu bersama musafir cinta ini?.
Makhluk lemah, Lutfi Mabruri .
*****
Brak!!, zulaikhah tak sadarkan diri, panah-panah rindu telah menusuk dan merobek-robek pikiran jernihnya. Setelah sadar, dengan langkah lunglai ia mengambil wudhu, lalu shalat dua rakaat. Dalam doa ia menangis sejadi jadinya “ Robby,.. engkau maha mengerti walau hanya sebisik hati, haruskah diri menghabiskan sisa akhir nafas hidupku, hanya terpaku merindu, membiarkan diri lupa akan kehangatan kasih-Mu. Robby... segarkanlah gersang lubuk dengan tetesan agung rahmatmu, sungguh nirwana cinta telah menghabiskan waktu tuk bercumbu bersama-Mu... amiin..” Sekali lagi zulaikhah pingsan, mukenanya basah oleh air mata yang menghiasi cawan cintanya yang telah mengekang detak jantungnya.
*****
Di ufuk timur nan jauh di sana, sang fajar masih tersenyum elok menghiasi tebing-tebing cakrawala bersama lelehan air mata, zulaikhah menulis balasan surat pada lutfi.segala rasa, segala cinta , segala duka ia tumpahkan pada secarik kertas di hadapanya. Setelah selesai ia mencium beberapa kali sebelum di titipkan pada khusni.
“ ya robby.... selamatkanlah dia sampai tujuan, karena dia membawa separuh nafasku. Amiin...” ratap zulaikhah pada relung hatinya.
Buat insan yang ku puja Atas nama cinta...
Yang telah mengukir prasasti-prasasti suci.
Di retak dan dinding sanubari.
Hanya seulas senyum sang kekasih dinanti.
Ketika beratus kali angan tersuruk-suruk
Menelusuri dimensi dengan segenggam sunyi.
Duhai musafir cinta
Di setiap langkahmu ku dengar.
Dentingan syair-syair rindu yang tulus.
Berirama bersama alunan lagu.
Yang menyatukan cinta dan rindu.
Wahai pelipur laraku.
Di saksikan siraman sang purnama.
Mari kita meneguk rasa di cawan cinta.
Tuk mengikrarkan satu kata cinta Semoga perjalanan kita nanti di ridhoi Allah sang maha adidaya.
Amiin...
Perindumu.
*****
Di iringi derai air mata, ia bersujud syukur, syukur atas panah cintanya yang terarah. Tepuk cintanya Tak sebelah. “ ya ilahi... dzat yang maha mengetahui segala detak-detak hati hamba. Bukan maksud hamba memadumu, diri tak punya daya tuk berpaling dari lukisan syurga yang engkau ilhami.”
Lutfi hanya bisa mengadu pada sang rab nya. Tak mungkin ia menemui sang kekasih untuk mengobati sakit rindu, karena syariat melarangnya. Memang tidak ada kata toleransi dalam agama islam tuk memperbolehkan pacaran.
Tak terasa 14 hari terlewati antara lutfi dan zulaikhah memadu kasih, merangkai rindu hanya melewati tarian pena, namun mereka tetap bahagia merajut kasih di “alam maya”. Seharian lutfi nampak gelisah, karena besok sudah harus balik ke PPS, dalam hatinya ada dua sisi yang berkecambuk, “antara cita-cita atau pesona cinta”. Tak ada jawaban atas pertanyaan hatinya. Hari rabu tanggal 24 R. Awal, ia memutuskan balik tepat waktu ke PPS.
Yach...! demi tholabul ilmi, ia bungkus cintanya dengan harapan yang mulia, demi syiar agama ia kekang gumuruh jiwanya dengan tasbih dan istighfar. Demi cita-cita suci ia bingkai rindunya dengan dzikir dan sholawat.
Sebelum berangkat, lutfi menemui khusni yang telah membawa rindunya pada zulaikhah.
“selamat jalan saudaraku, insya allah dengan mendekatkan diri pada sang khalik engkau mampu meredam nafsu cintamu” ucap khusni lirih, mereka tak mampu menahan air mata dalam rangkulan dua sahabat fillah. Khusni sekarang menuju rumah zulaikhah, surat terakhir dari lutfi ia pegang erat-erat, ada perasaan iba dan bangga pada perjalanan cinta kedua insan ini.
*****
Buat habibah fillah
Habibi....
bersamamu hati menemukan kasih syahdu.
Barsamamu angan merasakan hangatnya rindu.
Bersamamu asa merangkai serat-serat rasa.
Bersamamu jiwa membingkai kasih mempesona.
Kasihku....
Selama angin musim semi menggoyangkan helai-helai cendan.
Tak kan henti denyut nadiku merajut indah di hela aksara namamu.
Demi semua penghuni semesta.
selama hempas semilir senja, Tak lelah melambaikan janur kelapa.
Menghabiskan waktu merangkuh rindu. Sekarang yach... sekarang...
Mungkin kita harus meregangkan rindu ataupun cinta yang menggebu.
Demi cinta demi masa depan yang bercahaya.
Insya allah kita akan sebenderang purnama
Kasihmu
Lutfi mabruri.
“selamat jalan pangeranku... moga kita menemukan sisa-sisa percik rahmatnya. Insya allah sampai kapanpun aku akan menunggumu wahai pujaanku”. Dengan cucuran air mata zulaikhah mengecup lembut surat terakhir dari pujaanya.
Siapa daya membendung gemuruhnya
Namun luka yang telah menganga
Tak akan sanggup menghalang hakikat cinta
Di ujung utara pulau jawa
Pujangga cinta dan dara jelita
Rela merana demi membuktikan getar getar cinta
Dunia dan kilau permata
Tak akan mampu menghibur sang pujangga
Teras hati gersang kerotan serasa
Hanya seulas senyum sang dara
Mampu membuat bualan mimpinya
Terjaga dibawah Naungan tasbih cinta
*****
Seulas senyum senja, membentang memenuhi hamparan cakrawala, dercak-dercak jingganya menebar merata menghiasi angkasa raya. Salah satu lukisan ilahi yang mempesona. lutfi yang sudah dua tahun nyantri di bumi lantani tersenyum penuh suka cita, hatinya riang gembira, tak henti hentinya iya memandang kota tuban, tanah kelahirannya. ’’sebentar lagi’’ pikirnya ketika bus mutiara yang ditumpanginya singgah di terminal kota Tuban. Tiada yang membuatnya lebih bahagia dari pada liburan dan pulang ke kampung halaman.
Akhirnya Setelah salam salaman sama orang tua, saudara-saudara, semua famili di rumah, dan tak lupa ia juga mampir menyapa tetangga dekatnya, lutfi yang memang bertampang lumayan kece itu melepas penatnya di taman belakang rumah yang penuh dengan tanaman hias.
‘’assalamualaikum’’ sebuah suara menengahi kesendiriannya, suara yang tak asing di telinga lutfi walau ia telah lama meninggalkan kampungnya. Ia menoleh.
‘’Waalaikum salam.. hai farid! Gimana, wah tambah gemuk aja nich....’’ sahutnya seraya memberikan tempat pada teman lamanya itu untuk turut bersantai menikmati tanaman hiasnya. Obrolan ringan karena kerinduan pun mulai mengalir di antara keduanya..
‘’ea lut, entar malem ada pengajian nich, tempatnya di rumah H. Syafi’i, seberang jalan tuh!... "sela farid sembari menunjuk rumah di pinggir jalan raya yang di bentangi dengan pagar besar bak istana kerajaan.
"Ea... insya allah’’ jawab lutfi datar.
‘’pokoknya kamu harus datang, ok! Udah ya, assalamualaikum’’ Farid berpamitan.
‘’Waalaikum salam” jawabnya. Lutfi tersenyum simpul memandang sahabatnya lenggak lenggok berlalu. Biasa “jemblong” tuh!.
*****
Acara tasyakuran di rumah H. syafi’i tampak meriah. Semua tamu yang mayoritas wong kopyahan atau jilbaban tampak bersuka cita, terhanyut oleh lantunan nasyid annabawiyah lantany. Tak ketinggalan Lutfi tampak bersahaja dengan setelan baju takwa putih yang juga berbaur bersama. Bibirnya tiada henti bersholawat seiring lagu, sementara penglihatannya mulai menyapa seluruh isi ruang yang penuh orang. Mereka adalah keluaga islami yang memancarkan cahaya keimanan dan berkah dari setiap sisi dinding rumahnya. Lafadz agung Allah, gambar orang orang yang berjasa di masanya seperti para wali, kyai besar dan juga bapak presiden Abdurrahman Wahid terhias di sepanjang dinding.
Namun diam diam Lutfi menemukan sebentuk bidadari di penghujung tatapannya. Sebelum acara selesai, lutfi sempat berkenalan dengan seorang dara jelita itu, wajahnya yang ayu dibalut jilbab dan sepasang mata bak permata yang tidak pernah di temui oleh penyelam di sepanjang samudra membuatnya tersihir oleh rasa pesona. “Siti Zulaikhah”, begitu iya menyebutkan nama. Lutfi tidak dapat berkata, ia mencoba menahan gemuruh lubuk hati yang kian membahana dan mulai meneruskan perkenalan. “ Lutfi Mabruri”.
Zulaikhah hanya menundukan kepala, cahaya aura lutfi telah memenjarakan hatinya. Tanpa sadar ada getaran yang menyala di sudut hatinya. Walau pada pandangan pertama kedua, detak hati insan ini tak bisa berdusta, bara asmara telah menyala dan berkobar menerangi istana atas nama cinta. Tak ada kata terucap, hanya isyarat kerlingan mata yang syahdu memenuhi waktu mereka, sampai acara selesai.
*****
Waktu tak pernah berhenti menelan ruang kisah manusia. Lutfi dan zulaikhah, walaupun hanya merangkai bayangan syahdu, mereka bahagia dan tidak lelah merajut siang dengan syair-syair indah membingkai malam dengan lagu-lagu rindu. “duhai khusni, bantulah hamba yang lemah ini”
“emang ada apa?” khusni tampak mengerutkan kening, wajah sobatnya pucat. “kamu sakit?” sambungnya lagi.
“karena sakit ini aku menemukan kenikmatan yang tiada tara, suatu kelezatan yang terilham dari syurga.” . mimik muka lutfi serius, khusni hanya melongo heran. “kenapa nih anak,” pikirnya dalam hati. “tolong serahkan surat ini pada zulaikhah” tangan lutfi gemetar menyerahkan surat pada khusni.
“oh,.. ini ta masalahnya, kirain ada apa. Ok deh !”
“sampaikan salamku padanya”, suara lutfi kian serak ada titik linang tertahan di pelupuknya. Setelah khusni berlalu, lutfi tak mampu menahan air mata, ia menangis karena bahagia, sepatah sayapnya telah di bawa oleh khusni tuk di persembahkan pada sang kekasih.
“zul, ini dari lutfi, dia juga nitip salam buat kamu” khusni menyerahkan sepucuk surat pada zulaikhah dan langsung pamit pulang.
Teruntuk adinda siti zulaikhah
Duhai sepasang sayap rinduku.
Ketika siul camar mendenting.
Dawai-dawai asmara.
Seisi alam teriak cemburu.
Saat ku rengkuh lukisan indah senyumu.
Duhai belahan sanubari.
Saat waktu mulai menghapus kisahku.
Kutemukan bias rinduku untukmu.
Hingga tak henti alam mimpiku.
Mengukir percik percik kilau auramu
Duhai separuh nafasku.
Hesrat hati merangkai kisah mempesona.
Bersama sang adinda, menelusuri indahnya taman nirwana.
Harap hati bingkai asa ini tak terlalu maya tuk jadi nyata
Maukah dinda merajut serat-serat rindu bersama musafir cinta ini?.
Makhluk lemah, Lutfi Mabruri .
*****
Brak!!, zulaikhah tak sadarkan diri, panah-panah rindu telah menusuk dan merobek-robek pikiran jernihnya. Setelah sadar, dengan langkah lunglai ia mengambil wudhu, lalu shalat dua rakaat. Dalam doa ia menangis sejadi jadinya “ Robby,.. engkau maha mengerti walau hanya sebisik hati, haruskah diri menghabiskan sisa akhir nafas hidupku, hanya terpaku merindu, membiarkan diri lupa akan kehangatan kasih-Mu. Robby... segarkanlah gersang lubuk dengan tetesan agung rahmatmu, sungguh nirwana cinta telah menghabiskan waktu tuk bercumbu bersama-Mu... amiin..” Sekali lagi zulaikhah pingsan, mukenanya basah oleh air mata yang menghiasi cawan cintanya yang telah mengekang detak jantungnya.
*****
Di ufuk timur nan jauh di sana, sang fajar masih tersenyum elok menghiasi tebing-tebing cakrawala bersama lelehan air mata, zulaikhah menulis balasan surat pada lutfi.segala rasa, segala cinta , segala duka ia tumpahkan pada secarik kertas di hadapanya. Setelah selesai ia mencium beberapa kali sebelum di titipkan pada khusni.
“ ya robby.... selamatkanlah dia sampai tujuan, karena dia membawa separuh nafasku. Amiin...” ratap zulaikhah pada relung hatinya.
Buat insan yang ku puja Atas nama cinta...
Yang telah mengukir prasasti-prasasti suci.
Di retak dan dinding sanubari.
Hanya seulas senyum sang kekasih dinanti.
Ketika beratus kali angan tersuruk-suruk
Menelusuri dimensi dengan segenggam sunyi.
Duhai musafir cinta
Di setiap langkahmu ku dengar.
Dentingan syair-syair rindu yang tulus.
Berirama bersama alunan lagu.
Yang menyatukan cinta dan rindu.
Wahai pelipur laraku.
Di saksikan siraman sang purnama.
Mari kita meneguk rasa di cawan cinta.
Tuk mengikrarkan satu kata cinta Semoga perjalanan kita nanti di ridhoi Allah sang maha adidaya.
Amiin...
Perindumu.
*****
Di iringi derai air mata, ia bersujud syukur, syukur atas panah cintanya yang terarah. Tepuk cintanya Tak sebelah. “ ya ilahi... dzat yang maha mengetahui segala detak-detak hati hamba. Bukan maksud hamba memadumu, diri tak punya daya tuk berpaling dari lukisan syurga yang engkau ilhami.”
Lutfi hanya bisa mengadu pada sang rab nya. Tak mungkin ia menemui sang kekasih untuk mengobati sakit rindu, karena syariat melarangnya. Memang tidak ada kata toleransi dalam agama islam tuk memperbolehkan pacaran.
Tak terasa 14 hari terlewati antara lutfi dan zulaikhah memadu kasih, merangkai rindu hanya melewati tarian pena, namun mereka tetap bahagia merajut kasih di “alam maya”. Seharian lutfi nampak gelisah, karena besok sudah harus balik ke PPS, dalam hatinya ada dua sisi yang berkecambuk, “antara cita-cita atau pesona cinta”. Tak ada jawaban atas pertanyaan hatinya. Hari rabu tanggal 24 R. Awal, ia memutuskan balik tepat waktu ke PPS.
Yach...! demi tholabul ilmi, ia bungkus cintanya dengan harapan yang mulia, demi syiar agama ia kekang gumuruh jiwanya dengan tasbih dan istighfar. Demi cita-cita suci ia bingkai rindunya dengan dzikir dan sholawat.
Sebelum berangkat, lutfi menemui khusni yang telah membawa rindunya pada zulaikhah.
“selamat jalan saudaraku, insya allah dengan mendekatkan diri pada sang khalik engkau mampu meredam nafsu cintamu” ucap khusni lirih, mereka tak mampu menahan air mata dalam rangkulan dua sahabat fillah. Khusni sekarang menuju rumah zulaikhah, surat terakhir dari lutfi ia pegang erat-erat, ada perasaan iba dan bangga pada perjalanan cinta kedua insan ini.
*****
Buat habibah fillah
Habibi....
bersamamu hati menemukan kasih syahdu.
Barsamamu angan merasakan hangatnya rindu.
Bersamamu asa merangkai serat-serat rasa.
Bersamamu jiwa membingkai kasih mempesona.
Kasihku....
Selama angin musim semi menggoyangkan helai-helai cendan.
Tak kan henti denyut nadiku merajut indah di hela aksara namamu.
Demi semua penghuni semesta.
selama hempas semilir senja, Tak lelah melambaikan janur kelapa.
Menghabiskan waktu merangkuh rindu. Sekarang yach... sekarang...
Mungkin kita harus meregangkan rindu ataupun cinta yang menggebu.
Demi cinta demi masa depan yang bercahaya.
Insya allah kita akan sebenderang purnama
Kasihmu
Lutfi mabruri.
“selamat jalan pangeranku... moga kita menemukan sisa-sisa percik rahmatnya. Insya allah sampai kapanpun aku akan menunggumu wahai pujaanku”. Dengan cucuran air mata zulaikhah mengecup lembut surat terakhir dari pujaanya.
Langganan:
Postingan (Atom)